Karya ; MUHAMMAD TAUFIQ
Selepas
isya,jamaah shalat isya meninggalkan masjid satu persatu sebagian lampu
masjid telah padam pintu2 telah terkunci kesunyian mulai merayap angin
bertasbih pada dedaunan pohon ketepeng dan diantara gemericik air,bulan
bersaput awan tewaram,sayup2 terdengar tilawah Al Quran dari kamar
ta'mir masjid suaranya mendayu-dayu terasa syahdu dalam kalbu.
Pada
shaf putri seorang ibu terbalut mukena suci yg sedikit kusam jemari
tuanya tak henti memilin biji tasbih sementara bibirnya berlumur tasbih
dan tahmid memuja Rabb,Allah Azza Wajalla.
Sementara
itu seorang remaja putri berada disampingnya dalam sujud panjangnya
terdengar gemuruh doa dari kedalaman hati hingga sajadahnya bersimbah
airmata seusai salam ia menepis airmatanya dg ujung mukena putihnya.
"Mengapa kamu menangis,putriku?"
Perempuan muda tersebut hanya menunduk dan menggeleng.sang ibu membelai putrinya dg hangat.
"Ummi,apakah Ruqaiyah harus menikah dg Mas Din?"
"Ya,putriku.Insya
Allah,Syamsuddin adalah jodohmu meski ia hanya seorang guru di Madrasah
aliyah ia memiliki bekal yg cukup untuk menjadi suami yg baik bagimu
dan ayah yg santun untuk anak2mu kelak.Syamsuddin putra Pak Abdurrahman
Badawi sahabat karib abi ketika dipesantren Al Fadholi Malang.Abi dan
Ummi tahu betul kesehariannya kami telah mengenalnya sedari kecil bahkan
kalian telah akrab seperti kakak dan adik meskipun sekarang ia masih
kuliah di IKAHA Tebuireng sedangkan kamu telah menjadi dosen di STKIP
PGRI Jombang tapi Ummi yakin Syamsuddin mampu membimbingmu kejalan yg
lurus milik Allah"
"Selama ini,Ruqaiya menganggap Mas Din seperti kakak Ruqaiyah sendiri Ruqaiyah tidak berani mencintainya Ummi."
"Tapi
Syamsuddin mencintaimu,putriku ia telah bicara banyak pada Ummi tentang
perasaannya selama ini kepadamu karena itulah selama ini ia sangat
menjaga jarak dg mu agar keakraban kalian tak melampui batas karena
Syamsudin mencintaimu,putriku."
"Tapi
Ummi,Ruqaiyah telah mencintai Mas Fahmi meskipun ia telah mencintai
wanita lain Ruqaiyah mencintainya secara diamc agar konsentrari mengajar
kami tidak terganggu.Ruqaiyah jatuh cinta pada Mas Fahmi,saat bimbingan
skripsi dulu kebetulan dosen pembimbing kami sama Ruqaiyah tak pernah
pacaran dg Mas Fahmi hanya mencintainya meski Mas Fahmi suka
berganti-ganti pacar."
"Astaghfirullah!
Putriku,pacaran adalah hal yg nista mendekati zina,haram hukumnya "Dan
janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yg
keji dan suatu jalan buruk" tinggalkan kesesatan putriku,menuju cahaya
Nya" ibu tersebut meninggikan suaranya,bergetar seluruh tubuhnya keriput
diwajahnya kian tegas sorot matanya menyala-nyala namun rona ayu
wajahnya tetap terjaga.
"Ruqaiyah sudah berusaha melupakan Mas Fahmi tapi selalu gagal cinta Ruqaiyah terlalu besar tuk Mas Fahmi,Ummi."
"Berlindunglah
pada Allah,putriku tak ada yg patut kita cintai kecuali Allah dan Rasul
Nya percayalah Fahmi bukan lelaki baik2.Ummi paham sekali sifat Fahmi
yg berandalan itu ia memang tampan,pintar dan kaya tapi Ummi tahu
hatinya busuk! Percayalah pada Ummi,putriku."
"Ummi tidak boleh suudzon pada Mas Fahmi!"
"Apakah Ruqaiyah lebih memercayai Fahmi dari pada Ummi?"
"Bukan begitu,Ummi,"Ruqaiyah merajuk manja pada ibunya sementara Nusaiba membelai putri semata wayangnya dg cinta.
"Mungkin
sudah saatnya Ummi bercerita kepadamu bagaimana Ummi menjalani
kegetiran hidup terperosok ke jurang nista karena pergaulan keliru hari2
yg kelam penuh airmata dan penyesalan hingga Ummi menemukan cahaya
cinta sejaji,cinta yg menuntun Ummi ke cahaya kebahagiaan surga. Insya
Allah.
"Astaghfirullah! Benarkah,Ummi? Mengapa Ummi selama ini menyembunyikannya?
Malam
semakin pekat tanpa rembulan tak berbintang hanya angin malam yg
semakin liar bertasbih,beradu dg lantunan ayat2 suci dari kamar ta'mir
masjid hingga menembus langit.
Ruqaiyah
menutup pintu masjid agar angin tak menerpa mereka dalam pelukan
Nusaiba dalam balutan mukena penuh cinta Ruqaiyah mendengar Ummi
berkisah untuknya.
Setelah
lulus Madrasah Tsanawiyah Ngoro,Ummi belajar di pesantren Tambak Beras
Jombang tepatnya dipesantren putri Al Fathimiyah sembari sekolah di
Madrasah Aliyah Tambak Beras Ummi melewati masa remaja penuh dg
kegembiraan bersama santriwati dipesantren dan teman2 sekolah hari2 Ummi
lewati dg mengaji kitab2 salaf dg tenang Ummi belajar banyak hal
tentang aklak,fiqih,bahasa arab,ilmu hadis,sharaf,nahwu dan lain
sebagainya juga tentang kebersamaan dan kekeluargaan.
Ummi
mendapat banyak teman tidak saja dipesantren tapi juga disekolah kami
saling menyayangi hampir tidak ada konflik yg berujung dendam diantara
kami hanya kasus ringan dan kesalahpahaman saja yg sering terjadi itu
pun akan lebur dalam forum silahturrahim disetiap akhir pengajian ba'da
isya kami berbicara dari hati ke hati tentang hal yg mengganjal dihati
hingga semua masalah selerai pada hari itu juga lalu kami saling
berpelukan dan meneruskan cerita2 kami diatas ranjang dalam kamar
masing2.
Sebagian
besar santriwati juga bersekolah baik di Madrasah Tsanawiyah,Madrasah
Aliyah Maupun perguruan tingi.Saat sekolah Ummi mengenakan seragam
putih2 disetiap hari senin dan selasa sedangkan hari rabu dan kamis kami
mengunakan seragam batik kami kelihatan anggun sekaligus lucu karena
pada awal kelas satu kerudung kami banyak yg penceng dan rok panjang
kami kedodoran.
Akibatnya
Ummi sering diminta maju kedepan kelas untuk membaca kitab dan
menjelaskan maksudnya untuk itulah Ummi harus berjuang untuk tetap
terjaga dan ekstra serius memerhatikan setiap penjelasan beliau hingga
teman sekelas cemburu pada Ummi karenanya.
Sebenarnya
Ummi telah selesai belajar di pesantrdn tepat 3 tahun seiring dg Ummi
yg lulus dari Madrasah Aliyah beberapa teman santriwati telah
meninggalkan pesantren setelah lulus sekolah tapi tidak Ummi.Ummi
diminta untuk mengabdi di Ndalem romo Kyai selama setahun,Ummi senang
sekali karena Ummi juga tak ingin kuliah atau kembali dirumah Ummi lebih
tenang dan istiqamah ketika dipesantren.
Hingga
suatu ketika malam itu Romo Kyai dan Bu Nyai meminta Ummi untuk segera
menikah.Tahukah kamu,putriku? Mereka menjodohkan Ummi dg guru nahwu
tersebut! Perasaan Ummi langsung melambung tingi mendengarkannya tak
terbayang jika Ummi akan menjadi wanita yg paling bahagia jika Ummi
bersuami beliau.Dua hari sebelumnya beliau dan ayahandanya menemui Romo
Kyai dan mengutarakan keinginan untuk meminang Ummi.
Tapi
terlalu cepat,putriku saat itu Ummi merasa belum siap untuk menikah
Ummi masih ingusan kurang dewasa Ummi masih ingin belajar dipesantren
Ummi tidak menolak lamaran tersebut Ummi beralasan ingin membicarakannya
lebih dahulu pada keluarga Ummi namun Romo Kyai terus memaksa Ummi
untuk menerima pinangan tersebut akhirnya Ummi memutuskan untuk
memberikan jawabannya tahun depan itupun jika beliau masih bersedia
menunggu.
Ternyata
sikap egois dan kekanak-kanakan Ummi berbuntut penyesalan yg
berkepanjangan dalam hidup Ummi seandainya Ummi langsung menerima
pinangan tersebut Ummi tidak akan merasakan pahitnya jurang nista yg
dalam.
Sejak
peristiwa menggemparkan itu Ummi langsung demam dan jatuh sakit Ummi
minta Izin untuk istirahat dirumah selama seminggu Ummi tidak pernah
bercerita pad Ibu atau keluarga yg lain tentang pinangan itu,Ummi pikir
mereka tak akan mau peduli dg Ummi tapi Ummi salah keluargalah yg harus
kita percayai merekalah yg jelas menyayangi kita tanpa syarat bukan
orang lain.
Setelah
setahun mengabdi di Ndalem Ummi minta izin untuk kuliah di STKIP PGRI
Jombang.Ummi berharap dg kuliah bisa membawa pada kehidupan selanjutnya
yg lebih baik namun semua mimpi Ummi terbakar musnah oleh kebejatan dan
nafsu lelaki!
Tapi
tidak sekarang,putriku.Ummi akan menceritakan kisah Ummi besok malam
seusai isya sekarang sudah larut putriku,mari kita pulang.
Ruqaiya
membantu ibunya berdiri meninggalkan masjid,bulan pucat menggantung
dilangit sana meski angin yg berhembus semakin kencang Ruqaiya dan
Nusaiba terasa hangat dibalik mukena cinta.
Bersambung.....



0 komentar:
Posting Komentar